Foto Keren Tapi Membingungkan, Bung Karno, Pak Harto dan AH Nasution Satu Frame Tertawa



Dalam catatan sejarah, hubungan Bung Karno dengan Pak Harto atau Soeharto menyita perhatian dari penikmat sejarah.

Nah ngomong-ngomong soal tokoh tersebut, ada sebuah foto keren tapi membingungkan dari Bung Karno, pak Harto dan AH Nasution.

Dalam foto itu, ketiganya tersenyum tertawa.

Hubungan Bung Karno dan pak Harto naik turun. Pak Harto diyakini sebagian pihak telah mendongkel Bung Karno dari kekuasaannya.


Pada akhirnya pemimpin besar revolusi Bung Karno jatuh dari kekuasaannya dan digantikan oleh pak Harto

Foto keren tapi membingungkan
Foto satu frame ketiga tokoh itu diunggah oleh akun Instagram @thebigbung, akun yang memosting segala ikhwal tentang Bung Karno.

Admin akun itu mengaku banyak yang tertarik dengan foto jarang tersebut. Awalnya akun ini memosting foto Bung Karno, pak Harto dan AH Nasution di Insta Story. Menurut keterangan resmi dari yang merilis foto, potret satu frame itu pada 24 Desember 1965 di Istana Merdeka, momen mereka tertawa setelah tragedi G30S pada 30 Sepember 1965.

Banyak yang merespons unggahan di Insta Story dan akhirnya admin mengunggahnya di feed Instagram.

Saking kerennya foto satu frame itu, admin mengaku sampai bingung menaruh caption yang cocok untuk menggambarkan momen tersebut.“Saya sempat upload foto ini di Insta Story, dan di situ saya tulis bahwa saya bingung soal caption yang cocok untuk foto ini.. Ungkapan kebingungan itu asli, tidak dibuat-buat, seperti itulah adanya. Bagi saya, foto ini keren banget.. Resolusinya lumayan, sudah berwarna dari agency resminya dan lebih dari itu: figur-figur di dalamnya sedang tertawa.. Priceless!” tulis admin akun itu.

Akhirnya admin menuliskan caption foto itu dengan cerita purnawirawan Mayjend IGK Manila.

IGK Manila dekat Bung Karno dan pak Harto

Jadi IGK Manila punya sejarah dengan kedua tokoh tersebut. Manila pernah menjadi pengawal Soeharto saat masih di Kostrad, Manila pula yang menemani Bung Karno selama 10 hari saat sang proklamator diasingkan di Wisma Yaso, Jakarta Selatan pada awal 1967.

Dikutip dari laporan Detik yang mengutip buku IGK Manila: Panglima Gajah, Manajer Juara, Manila diperintahkan atasannya untuk menjaga seorang tua di selatan Jakarta pada awal 1967.

Tugas khusus ini diberikan pada tiga orang termasuk Manila, namun tak disebutkan siapa sosok orang tua itu.

Belakangan sosok orang tua itu adalah Bung Karno di Wisma Yaso. Manila dan dua temannya kaget otomatis. Ketiganya diperintahkan untuk memastikan tak ada kunjungan atau tamu yang menemui Bung Karno.

Manila mengaku selama 10 hari menjaga Bung Karno, hanya dia yang setia. Dua temannya malah curi kesempatan, untuk pergi menemui pacarnya masing-masing.

Manila mengatakan makan bareng dengan Bung Karno, dari menu ransum prajurit sampai kadang kalau bosan, Bung Karno minta dibelikan nasi padang dan makan bareng bersama Manila.

Manila ingat, di sela-sela dia menjaganya, Bung Karno sering memberikan wejangan. Yang paling teringat adalah wejangan,“Manila, kalau kamu menjadi pemimpin di Indonesia, ada satu hal yang tak boleh kamu lupakan: jangan pernah mengubah kebinekaan kita. Kekuatan kita ada pada kebinekaan itu.”

Puluhan tahun kemudian usai pak Harto lengser dari jabatannya, dan sakit-sakitan, Manila bertamu ke Cendana untuk menjenguk pak Harto.

Dalam sebuah kesempatan itu, Manila menyampaikan Jenderal Besar Soeharto lebih beruntung dari Bung Karno.

Saat sakit Soeharto masih mendapatkan perawatan di rumah sakit terbaik, ditangani tim dokter kepresidenan.

Manila mengatakan saat Bung Karno sakit dia cuma diberi naspro, obat untuk sakit ringan tanpa resep dokter. Mendengar cerita Manila tersebut, Soeharto mengungkapkan dia tidak pernah menyuruh untuk menyengsarakan Sukarno

“Saya hanya meminta agar Bung Karno jangan berhubungan dengan media asing. Kalau beliau bicara keluar, dunia akan mendukung beliau, Asia Afrika akan mendukung, bisa membelanya, dan kita bisa perang saudara. Saya ini tidak ada artinya, Manila, dibanding Bung Karno,” ujar pak Harto.